Beranda » Esai dan Opini » DAMPAK PENGGUNAAN CHATGPT PADA MAHASISWA

DAMPAK PENGGUNAAN CHATGPT PADA MAHASISWA

By: Grace Stefani Sembiring dan Purnama

            Chat GPT menjadi salah satu teknologi yang dijadikan senjata oleh beberapa kalangan, salah satunya adalah mahasiswa karena dapat membantu mereka untuk mengerjakan tugas atau mendapatkan informasi dengan mudah. Mudahnya menggunakan Chat GPT dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan menyebabkan penurunan minat baca bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana pengaruh Chat GPT terhadap minat baca mahasiswa.

            Sebanyak 215 mahasiswa aktif Universitas Pendidikan Indonesia yang dipilih dengan menggunakan teknik sample random sampling terlibat sebagai subjek penelitian. Data dihimpun dengan menggunakan Teknik survey dengan instrument penelitian berupa angket dengan skala likert. Hasil penelitian menghasilkan bahwa Chat GPT memiliki pengaruh positif terhadap minat baca mahasiswa. ChatGPT sangat efektif untuk proses pengeditan, pemformatan dan pengeditan bahasa, menulis ulang kalimat yang sangat rumit menjadi lebih jelas dan bahkan meringkas seluruh teks secara berurutan untuk menulis abstrak yang cocok dan layak untuk digunakan meskipun hasilnya tidak selalu memuaskan, tapi Chat GPT dapat menghemat waktu penggunanya. Chat GPT memiliki pengaruh yang besar terhadap penggunaanya. Chat GPT memiliki kemungkinan terjadinya plagiarisme dan menurunkan keterampilan menulis dan berpikir kritis. Oleh karena itu, mahasiswa perlu bijak dalam menggunakan teknologi ini, dengan memastikan bahwa karya akademik yang dihasilkan adalah orisinal dan bukan plagiat serta menggunakan Chat GPT dijadikan sarana belajar mandiri, bukan sebagai pengganti proses pembelajaran di kelas. Namun pada jurnal internasional peneliti menemukan pembahasan terkait ChatGPT yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, diantaranya penelitian oleh Lund, & Wang (2023) yang mengungkapkan bahwa ChatGPT memiliki kekuatan yang besar untuk memajukan akademisi dengan cara baru. Namun, penting untuk mempertimbangkan bagaimana menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab dan etis sebagai profesional untuk meningkatkan pekerjaan daripada menyalahgunakannya.

            Namun demikian, pengaruh tersebut sangat kecil karena terdapat factor lain yang lebih berkontribusi terhadap minat baca mahasiswa. Fakto-faktor lain yang lebih kuat mempengaruhi minat baca mahasiswa yaitu ketertarikan terhadap konten, kebutuhan, dan motivasi individu. Kehadiran Chat GPT memberikan dilema tersendiri dalam dunia Pendidikan. Di satu sisi, penggunaan Chat GPT dapat mempermudah pengguna untuk memahami dan memperoleh informasi sehingga membantu kegiatan membaca, tetapi di sisi lain penggunaan teknologi yang dalam hal ini adalah Chat GPT perlu digunakan secara bijak agar tetap menjunjung nilai kejujuran dan orisinalitas dalam dunia akademik. Harapannya, lebih banyak teknologi yang hadir sebagai fasilitas yang dapat membantu kegiatan membaca sehingga kehadiran teknologi dapat berpengaruh positif terhadap minat baca.

            Menurut penelitian terdahulu salah satu pondasi dasar untuk menciptakan SDM Indonesia yang unggul adalah menumbuhkan budaya literasi dan minat baca di tengah masyarakat (Mansyur, 2019). Budaya literasi, khususnya baca-tulis, memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan, karena sejatinya membaca dan menulis adalah kunci ilmu pengetahuan. Membaca dan menulis yang merupakan kunci ilmu pengetahuan ini harus dapat menjadi kebiasaan dan budaya. Negara-negara maju telah memiliki budaya literasi yang tinggi, tidak hanya berlangsung di lingkungan pendidikan formalnya saja, melainkan sudah menjadi tradisi atau budaya dalam masyarakatnya (Hati, dkk., 2023). Diharapkan negara Indonesia juga dapat menjadikan membaca serta menulis sebagai budaya yang menarik dan terus berkembang. Persoalan rendahnya literasi di Indonesia merupakan masalah serius yang sedang dihadapi pemerintah.

            Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo sebelumnya telah meluncurkan berbagai program literasi di tengah masyarakat, seperti Gerakan Indonesia membaca (GIM), Gerakan Literasi Bangsa (GLB), serta Gerakan Literasi Sekolah (GLS) (Hamdani & Rusydiyah, 2022). Namun demikian, hingga saat ini, fakta di lapangan masih menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat tergolong masih rendah. Upaya berupa strategi pengintegrasian kegiatan membaca dalam setiap pembelajaran untuk meningkatkan minat baca dalam lingkungan pendidikan formal masih belum berjalan seperti yang diharapkan.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less