- Critical ReviewMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 9
- Esai dan OpiniPentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Tengah GempuranGlobalisasi
- Esai dan OpiniPENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT
- Critical ReviewPENGEMBANGAN BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN BAHAN AJAR
- Esai dan OpiniPERANAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH

GENERASI CEMAS: KETIKA MEDIA SOSIAL MEMBENTUK STANDAR HIDUP
By: Della Frice Br Manurung, Ana Theresia Br Sitepu, Dhea Ayuanda
Setiap hari, jutaan orang menggulir layar ponsel mereka, menyaksikan kehidupan yang tampak sempurna dalam unggahan di media sosial. Pose tanpa cela, pencapaian yang menginspirasi, serta gaya hidup mewah yang ditampilkan menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dan kesuksesan memiliki standar visual tertentu. Di balik gemerlapnya dunia digital, ada satu fenomena yang mengakar dalam kehidupan anak muda saat ini: kecemasan sosial akibat standar kepercayaan diri yang dibentuk oleh media sosial.
Menurut data yang dilansir oleh Detik.com, generasi muda saat ini cenderung mengalami kecemasan sosial akibat tekanan untuk selalu tampil sempurna dan mengikuti tren yang berkembang di media sosial. Mereka takut tertinggal dari teman sebaya, merasa perlu untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan yang viral, dan khawatir akan penilaian orang lain terhadap kehidupan mereka.
Fenomena ini semakin diperkuat dengan hadirnya istilah FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of People’s Opinion) yang kini menjadi tren di kalangan generasi muda. FOMO mencerminkan ketakutan untuk tertinggal dari tren atau informasi terbaru, yang mendorong individu terus terhubung dengan media sosial agar tetap “update”. Sementara itu, YOLO menanamkan semangat untuk menikmati hidup dan mengambil setiap kesempatan, meski sering kali tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Di sisi lain, FOPO menggambarkan kekhawatiran berlebihan terhadap penilaian orang lain, yang pada akhirnya dapat merusak kesehatan mental dan menurunkan rasa percaya diri.
Manipulasi Media Sosial: Obsesi Kesempurnaan dan Krisis Makna Hidup
Algoritma media sosial yang cerdas mampu mengkurasi konten sesuai preferensi pengguna. Namun, tanpa disadari, algoritma ini juga mendorong pengguna untuk terus membandingkan diri mereka dengan kehidupan yang tampak “sempurna” di layar media sosial. Akibatnya, banyak individu merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan terus dihantui oleh opini orang lain. Ketergantungan ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga memicu kecemasan sosial dan gangguan mental lainnya.
Budaya pop dan tren media sosial memperkuat standar kecantikan yang tidak realistis. Fenomena “glow up culture” dan penggunaan filter digital membuat banyak orang, khususnya remaja, terobsesi untuk mencapai kesempurnaan yang sebenarnya ilusi belaka. Demi pengakuan sosial, banyak dari mereka rela melakukan perubahan drastis pada penampilan fisik, yang pada akhirnya merusak kesehatan mental dan harga diri mereka sendiri.
Salah satu faktor utama yang memperburuk kecemasan sosial adalah hilangnya makna hidup yang sejati. Generasi muda yang mengalami Quarter Life Crisis (QLC) sering kali terjebak dalam standar hidup yang ditentukan oleh tren media sosial yang terus berubah. Ketika seseorang tidak memiliki fondasi spiritual yang kuat dan tidak memahami tujuan hidupnya sebagai makhluk Tuhan, ia mudah terombang-ambing oleh nilai-nilai yang dangkal dan tidak pasti.
Solusi Yang Dapat Diberikan
Untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh standar kecantikan yang tidak realistis, diperlukan kesadaran bahwa kecantikan sejati bukanlah semata-mata tentang tampilan fisik, melainkan tentang karakter, akhlak, dan pencapaian diri. Lebih dari itu, standar hidup yang benar adalah standar yang telah ditetapkan dalam Islam, yang memberikan panduan jelas tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan menjalani kehidupan tanpa harus tunduk pada ekspektasi sosial yang menyesatkan.
Dalam Islam, seseorang tidak akan memiliki pola pikir YOLO (You Only Live Once) yang cenderung hedonis dan bebas, karena Islam mengajarkan bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara dan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan memahami hakikat hidup dan tujuan keberadaan manusia sebagai hamba Allah, individu akan lebih bijak dalam menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, peran pendidikan sangat penting dalam menanamkan akidah Islam yang kuat agar individu mampu membedakan antara standar yang benar dan yang hanya merupakan ilusi duniawi. Dengan pemahaman ini, generasi muda akan lebih percaya diri, mampu menghargai dirinya sendiri, serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang merusak kesehatan mental.
Negaralah yang punya andil besar dalam hal ini yang memegang peran penting dalam mengatur konten di media sosial serta memastikan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam dapat diterapkan dengan baik. Negara harus merumuskan kebijakan yang membatasi penyebaran konten merugikan di media sosial, mendorong platform digital untuk menghadirkan fitur yang edukatif dan mendukung kesehatan mental, serta memperkuat pendidikan akidah Islam yang mampu membentuk karakter generasi muda.
Oleh karena itu, dengan memperkuat pondasi akidah, membangun kesadaran akan nilai diri yang sejati, serta didukung oleh kebijakan yang bijak dari negara, generasi muda dapat terbebas dari belenggu standar semu media sosial dan menjalani hidup yang lebih bermakna.
admin
16 Jul 2025
Lubuk Cemara, 15 Juli 2025 — Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berskala internasional sukses diselenggarakan di Sekolah Yapertis, Desa Lubuk Cemara. Acara ini dihadiri oleh 46 peserta, terdiri dari para guru Yapertis, dosen dan mahasiswa dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Malaysia, serta dosen-dosen dari Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah, Medan. Kegiatan ini mengangkat tema “Sosialisasi …
admin
03 Jul 2025
Inoe, Medan, 12 Desember 2024, Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di tingkat sekolah dasar, Dr. Asnawi, M.Hum. bersama tim dosen dari Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Retorika dalam Mengajar Berbasis Gaya Belajar Siswa Bagi Guru-Guru SDN 101874”. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 12 Desember 2024 ini diikuti …
admin
03 May 2025
Dalam upaya meningkatkan kualitas mahasiswa calon guru di era digital, dosen-dosen Universitas Asahan melaksanakan kegiatan Penelitian di lingkungan FKIP Universitas Asahan pada 28 Februari 2025. Tim penelitian yang diketuai oleh Dr. Khairun Nisa, M.Pd., dengan anggota Ely Syafitri, M.Pd., Elfira Rahmadani, S.Pd.I., M.Pd., Syarinah Junianti Hasibuan, dan Dewi Susanti Purba menghadirkan pendekatan inovatif dalam pengembangan …
admin
04 Apr 2025
Buku merupakan salah satu sumber utama dalam proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Namun, tidak semua buku memiliki kualitas yang memadai untuk mendukung proses belajar yang efektif. Telaah buku menjadi penting untuk mengevaluasi apakah buku tersebut memenuhi standar pedagogis, relevansi dengan kurikulum, serta kemampuan untuk merangsang pemikiran kritis siswa. Artikel ini akan membahas beberapa aspek …
admin
01 Apr 2025
By: Widya Wahyuni Br Silalahi Indonesia adalah sebuah negara yang melimpah dengan warisan budaya dan bahasa daerah. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat ratusan bahasa daerah yang mencerminkan keragaman budaya masyarakat setempat. Dua bahasa yang memiliki pengaruh signifikan adalah bahasa Jawa dan bahasa Batak. Bahasa Jawa digunakan oleh suku Jawa yang dominan berada di Pulau Jawa, …
admin
01 Apr 2025
By: Pitria Nurul Saputri Seiring dengan meningkatnya standar hidup masyarakat mengalami perubahan, terutama dalam cara mereka mengumpulkan dan mengonsumsi informasi. Selama periode globalisasi dan revolusi industri 4.0, teknologi informasi telah berkembang pesat, memungkinkan orang untuk mengakses informasi dari seluruh dunia kapan saja dan di mana saja. Kemajuan ini tidak hanya mempermudah berbagai tugas, tetapi …
18 Dec 2024 2.216 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
03 Jan 2025 1.040 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
03 Jan 2025 988 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, bersama tim dosen dari Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu Patumbak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah melalui pemanfaatan teknologi digital. Bertajuk “Sosialisasi Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pembelajaran Berbasis Proyek dan …
Comments are not available at the moment.