JANGAN SALAHKAN GLOBALISASI, BAHASA DAERAH MATI KARENA TIDAK KITA CINTAI
- account_circle admin
- calendar_month 1/04/2025
- visibility 324
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Nazwa Aulia Syahrani
Sering kali, globalisasi dianggap sebagai kambing hitam atau yang selalu disalahkan atas punahnya bahasa daerah. Padahal, punahnya bahasa daerah adalah karena kurangnya rasa cinta dan kepedulian kita sendiri. Globalisasi memang menjadi salah satu sebab adanya pergeseran bahasa daerah, namun bukan berarti kita bisa secara mutlak menyalahkannya atas kepunahan ini. Globalisasi hanyalah arus yang membawa perubahan, tetapi kitalah yang memegang kendali atas bagaimana bahasa dan budaya daerah ini dipertahankan.
Fakta menunjukkan dari 718 bahasa daerah di Indonesia, berdasarkan data tahun 2019, terdapat 11 bahasa yang mengalami kepunahan dan 24 bahasa mengalami kemunduran dari sisi jumlah penuturnya. Sedangkan berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) tahun 2024, dari 718 bahasa daerah terdapat 18 bahasa daerah berstatus aman, 21 rentan, 3 mengalami kemunduran, 29 terancam punah, 8 kritis, dan 5 punah. Salah satu penyebab utamanya adalah semakin sedikitnya jumlah penutur asli bahasa daerah tersebut, terutama dari kalangan generasi muda. Ini bisa terjadi karena generasi muda sekarang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing, karena menganggap bahasa daerah tidak relevan dengan kehidupan modern, bahkan dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar mengalami kepunahan semua bahasa daerah.
Sebagai generasi muda dan juga pewaris budaya, sudah seharusnya kita mengambil peran aktif dalam melestarikan bahasa daerah. Misalnya dengan menggunakan bahasa daerah dilingkungan nonformal, pengenalan bahasa ibu kepada anak-anak, hingga penerapannya dalam pembelajaran disekolah. Inilah beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan dengan tujuan untuk melestarikan bahasa daerah. Rasa cinta pada bahasa daerah harus ditanamakan sejak kecil, agar generasi selanjutnya memiliki rasa bangga terhadap warisan budaya mereka.
Disisi lain, teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelestarian bahasa daerah, misalnya dalam bermedia sosial, aplikasi belajar bahasa, dan konten-konten kreatif yang menggunakan bahasa daerah menjadi cara yang efektif untuk menarik perhatian para generasi muda agar bisa mencintai bahasa daerah. Dengan menggabungkan kecintaan terhadap budaya dan pemanfaatan teknologi, harapannya bahasa daerah bisa tetap hidup dan dicintai oleh setiap generasi.
Jadi, melestarikan dan menjaga dari punahnya bahasa daerah adalah tanggung jawab kita bersama. Jika kita memang mencintai bahasa daerah, kita akan menjaganya, menggunakannya tanpa rasa malu dan merasa ketinggalan zaman, serta harus mewariskannya ke generasi selanjutnya. Sebab, bahasa daerah bukan hanya sekedar alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas, sejarah, dan jiwa suatu bangsa.

Saat ini belum ada komentar