Membaca Buku Vs Scroll Medsos: Mana yang Lebih Bermakna?
- account_circle admin
- calendar_month 10/04/2026
- visibility 348
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Indah Febriyani
Di era digital seperti saat ini, kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, dan lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda (Gen Z). Konten video pendek yang cepat dan menarik sering kali membuat seseorang betah berlama-lama menatap layar ponselnya. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat mengurangi minat membaca, khususnya membaca buku secara langsung.
Data terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan membaca di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Menurut UNESCO, minat baca di Indonesia tergolong rendah (0,001%). Namun, laporan terbaru menunjukkan tren yang positif. Survei GoodStats 2025 menyebutkan bahwa 20,7% responden membaca secara rutin setiap hari. Selain itu, Indeks Kegemaran Membaca Perpusnas juga meningkat menjadi sekitar 72,44 pada tahun 2024 dengan dominasi dari Gen Z. Meskipun demikian, peningkatan ini belum sepenuhnya mencerminkan kualitas literasi yang baik.
Mengapa Buku Masih Tak Tergantikan?
Membaca buku memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan mengonsumsi konten digital. Saat membaca buku, seseorang dituntut untuk lebih fokus dan berkonsentrasi agar dapat memahami isi bacaan secara utuh. Proses ini membantu pembaca menyerap informasi secara lebih mendalam, mulai dari alur cerita, konflik, hingga makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga memunculkan perasaan bermakna saat buku yang kita baca selesai, seperti mendapat pesan moral yang berharga bagi kehidupan sehari-hari dan lainnya.
Selain itu, membaca buku juga melatih kemampuan berpikir kritis. Pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak untuk menganalisis, menafsirkan, dan merefleksikan isi bacaan. Kebiasaan ini secara tidak langsung memperkaya kosakata, karena pembaca akan menemukan berbagai kata dan ungkapan baru yang jarang ditemui dalam percakapan sehari-hari.
Aktivitas membaca juga berperan dalam melatih daya ingat. Otak bekerja lebih aktif untuk mengingat detail cerita, karakter, maupun informasi penting lainnya. Di sisi lain, membaca buku fisik memberikan pengalaman emosional yang lebih kuat karena adanya interaksi langsung dengan buku, seperti menyentuh halaman dan merasakan proses membaca secara nyata. Hal ini menciptakan keterikatan emosional yang membuat pengalaman membaca menjadi lebih bermakna dan sulit tergantikan oleh media digital.
Sebaliknya, konten digital seperti video pendek cenderung bersifat instan dan cepat berganti, sehingga membuat otak terbiasa menerima informasi secara dangkal. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat menyebabkan distraksi dan menurunkan daya fokus. Berdasarkan data terbaru pada awal 2025 hingga awal 2026, konsumsi video pendek seperti shorts dan reels di Indonesia sangat tinggi, bahkan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna aktif terbesar.
Kebiasaan tanpa tujuan yang jelas ini sering kali membuat waktu terbuang tanpa menghasilkan pemahaman yang berarti. Hal ini sejalan dengan kajian dari Universitas Gadjah Mada yang menyebutkan bahwa paparan informasi berlebih dapat memengaruhi kondisi psikologis, seperti menurunnya konsentrasi dan munculnya kelelahan mental. Sebaliknya, membaca buku justru memberikan dampak yang lebih positif, seperti melatih fokus dan meningkatkan daya ingat. Membaca buku fisik dengan melihat dan memegang langsung juga dapat meningkatkan keterikatan emosional terhadap isi bacaan.
Oleh karena itu, penting untuk mulai menyeimbangkan penggunaan media sosial dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Mengurangi kebiasaan menonton video pendek dan menggantinya dengan membaca buku dapat menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas literasi sekaligus mengembangkan diri.

Saat ini belum ada komentar