Memperkuat Akar Literasi Membaca Di Sekolah Dasar
- account_circle admin
- calendar_month 26/04/2026
- visibility 163
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Wafa Syahida Az-Zahra
Kalau kita bahas soal pendidikan di sekolah dasar sebenarnya kita sedang berbicara soal tentang cara membangun pondasi. Salah satu yang paling penting dari sebagai pondasi itu ialah kemampuan dalam berbahasa dan sastra. Kenapa? ya karena literasi itu membantu dalam memahami informasi dalam berbagai mata pelajaran dan berpikir kritis serta pemecahan masalah. Anak kalau tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh guru saat belajar pun pasti tetap akan ada kebingungan.
Masalahnya literasi itu anak bukan cuman bisa soal mengeja “b-o-l-a”. Literasi yang benar-benar literasi itu sebenarnya soal bagaimana anak itu bisa menarik dari sebuah tulisan yang dimaksud itu, anak mempunyai rasa penasaran, dan anak bisa berpikir kritis dari bacaan itu. Namun, pada kenyataannya banyak ditemukan di lapangan yang menunjukkan bahwa beberapa siswa yang masih banyak sebagian mengalami kesulitan dalam memahami teks bacaan secara mendalam. dari (karima 2019:01) menyebutkan dalam data kedudukan skor diperoleh Indonesia sebesar 487 dan ini masih di bawah rata-rata. Maka inilah yang dinamakan “ akar” dari literasi yang harus diperkuat agar mereka tidak hanya jadi pembaca teks, tetapi tahu arti dari bacaan tersebut. Dan menjadi pembelajaran yang cerdas.
Jujur saja, sekarang kita bersaing ketat oleh teknologi titik sebab itu, di mata anak-anak zaman sekarang, beli kuota untuk main game online jauh lebih seru dan asik dibandingkan beli buku cerita di toko buku. Budayanya kita memang lebih kental pada gaya budaya ngobrol sehari-hari daripada budaya baca. Nah, akibatnya kebanyakan sebagian anak-anak yang baca saja kalau dipaksa guru atau kasih tugas tanpa ada penjelasan sedikitpun dan itu kalau gurunya lagi ada rapat atau hal yang lain. Tanpa diarahkan, pun buku-buku pada menumpuk dan berdebu di sekitar sekolah-sekolah jadi pajangan padahal minat baca itu harus datang memberi kenyamanan bukan rasa takut atau terpaksa. Menumbuhkan minat baca yang tinggi adalah kunci utama keberhasilan pendidikan dasar.
Pemerintah sebenarnya punya program gerakan literasi sekolah yang bagus. Pada kebijakan diperkuat oleh Permendikbud nomor 33 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti mewajibkan sekolah untuk melakukan pelaksanaan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit 11 setiap hari sebelum pelajaran dimulai, sebagai upaya pembiasaan meningkatkan literasi di sekolah. Sebagai guru atau calon guru, tidak harus berpikir di situ saja guru harus mempersiapkan pojok baca atau sudut baca di kelas. Lalu adakan sesi membaca sebelum pelajaran dimulai. Beri kebebasan memilih buku bacaan, agar siswa merasa lebih termotivasi untuk membaca biarkan mereka memilih buku sesuai minat dan keinginannya masing-masing. Keberhasilan pelaksanaan literasi sangat tergantung pada faktor pendukung dan penghambat yang ada dan bagaimana cara sekolah dalam menyikapi dan bertindak untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.
Meningkatkan strategi dalam literasi membaca siswa di kelas sangatlah penting. Guru tidak hanya sebagai penyampaian materi, tetapi guru juga sebagai fasilitator pendamping dan pembimbing. Contoh dalam menerapkan di kelas itu ialah bikin pojok baca yang nyaman menyediakan berbagai macam buku selain dari buku sediain karpet atau bantalnya dialasi untuk sandaran yang bikin siswa nyaman baca buku dan santai tidak ada paksaan. Dengan kreatifnya seorang guru, ada halnya sebagian dibuat kegiatan membacakan cerita dengan gaya yang menarik seperti menggunakan audio yang lucu ekspresi yang heboh dan sesekali berdiskusi dan bertanya saat-saat cerita itu berlangsung “menurut kalian, kalau tokoh di cerita ini tidak melakukan itu apa yang bakal terjadi ya?”. Hal sederhana ini atau kecil-kecilan yang membuat literasi itu hidup. Bukan sekedar teori di papan tulis karena minat membaca yang tumbuh dikarenakan aktivitas literasi.
Dengan demikian, literasi di SD itu adalah investasi jangka panjang membaca ialah literasi yang menjadikan sebuah proses berpikir memahami maksud dari tulisan itu dan merasakan emosi dari sebuah cerita. Perkembangan literasi nggak bisa diharapkan hasilnya akan kelihatan langsung besok pagi mungkin bertahap. Apabila guru konsisten membiasakan anak-anak dekat dengan buku, maka akan bertahap juga kebiasaan mereka dan mempunyai daya tarik minat dalam membaca tanpa paksaan. Inilah akar atau pondasi yang tertanam sejak SD maka selanjutnya akan dan bakal jadi pribadi yang peduli, berpikir kritis dan punya wawasan yang luas. Literasi bukan hanya sekedar tugas guru bahasa doang melainkan tugas bersama yang peduli sama masa depan generasi anak Indonesia hebat.

Saat ini belum ada komentar