Home » Esai dan Opini » Memperkuat Akar Literasi Membaca Di Sekolah Dasar

Memperkuat Akar Literasi Membaca Di Sekolah Dasar

admin 26 Apr 2026 98

By: Wafa Syahida Az-Zahra

  

Kalau kita bahas soal pendidikan di sekolah dasar sebenarnya kita sedang berbicara soal tentang cara membangun pondasi. Salah satu yang paling penting dari sebagai pondasi itu ialah kemampuan dalam berbahasa dan sastra. Kenapa? ya karena literasi itu membantu dalam memahami informasi dalam berbagai mata pelajaran dan berpikir kritis serta pemecahan masalah. Anak kalau tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh guru saat belajar pun pasti tetap akan ada kebingungan.

 Masalahnya literasi itu anak bukan cuman bisa soal mengeja “b-o-l-a”. Literasi yang benar-benar literasi itu sebenarnya soal bagaimana anak itu bisa menarik dari sebuah tulisan yang dimaksud itu, anak mempunyai rasa penasaran, dan anak bisa berpikir kritis dari bacaan itu. Namun, pada kenyataannya banyak ditemukan di lapangan yang menunjukkan bahwa beberapa siswa yang masih banyak sebagian mengalami kesulitan dalam memahami teks bacaan secara mendalam. dari (karima 2019:01) menyebutkan dalam data kedudukan skor  diperoleh Indonesia sebesar 487 dan ini masih di bawah rata-rata. Maka inilah yang dinamakan “ akar” dari literasi yang harus diperkuat agar mereka tidak hanya jadi pembaca teks, tetapi tahu arti dari bacaan tersebut. Dan menjadi pembelajaran yang cerdas.

 Jujur saja, sekarang kita bersaing ketat oleh teknologi titik sebab itu, di mata anak-anak zaman sekarang, beli kuota untuk main game online jauh lebih seru dan asik dibandingkan beli buku cerita di toko buku. Budayanya kita memang lebih kental pada gaya budaya ngobrol sehari-hari daripada budaya baca. Nah, akibatnya kebanyakan sebagian anak-anak yang baca saja kalau dipaksa guru atau kasih tugas tanpa ada penjelasan sedikitpun dan itu kalau gurunya lagi ada rapat atau hal yang lain. Tanpa diarahkan, pun buku-buku pada menumpuk dan berdebu di sekitar sekolah-sekolah  jadi pajangan padahal minat baca itu harus datang memberi kenyamanan bukan rasa takut atau terpaksa. Menumbuhkan minat baca yang tinggi adalah kunci utama keberhasilan pendidikan dasar.

 Pemerintah sebenarnya punya program gerakan literasi sekolah yang bagus. Pada kebijakan diperkuat oleh Permendikbud nomor 33 tahun 2015 tentang  penumbuhan budi pekerti mewajibkan sekolah untuk melakukan pelaksanaan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit 11 setiap hari sebelum pelajaran dimulai, sebagai upaya pembiasaan meningkatkan literasi di sekolah. Sebagai guru atau calon guru, tidak harus berpikir di situ saja guru harus mempersiapkan pojok baca atau sudut baca di kelas. Lalu adakan sesi membaca sebelum pelajaran dimulai. Beri kebebasan memilih buku bacaan, agar siswa merasa lebih termotivasi untuk membaca biarkan mereka memilih buku sesuai minat dan keinginannya masing-masing. Keberhasilan pelaksanaan literasi sangat tergantung pada faktor pendukung dan penghambat yang ada dan bagaimana cara sekolah dalam menyikapi dan bertindak untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.

 Meningkatkan strategi dalam literasi membaca siswa di kelas sangatlah penting. Guru tidak hanya sebagai penyampaian materi, tetapi guru juga sebagai fasilitator pendamping dan pembimbing. Contoh dalam menerapkan di kelas itu ialah bikin pojok baca yang nyaman menyediakan berbagai macam buku selain dari buku sediain karpet atau bantalnya dialasi untuk sandaran yang bikin siswa nyaman baca buku dan santai tidak ada paksaan. Dengan kreatifnya seorang guru, ada halnya sebagian dibuat kegiatan membacakan cerita dengan gaya yang menarik seperti menggunakan audio yang lucu ekspresi yang heboh dan sesekali berdiskusi dan bertanya saat-saat cerita itu berlangsung “menurut kalian, kalau tokoh di cerita ini tidak melakukan itu apa yang bakal terjadi ya?”. Hal sederhana ini atau kecil-kecilan yang membuat literasi itu hidup. Bukan sekedar teori di papan tulis karena minat membaca yang tumbuh dikarenakan aktivitas literasi.

Dengan demikian, literasi di SD itu adalah investasi jangka panjang membaca ialah literasi yang menjadikan sebuah proses berpikir memahami maksud dari tulisan itu dan merasakan emosi dari sebuah cerita. Perkembangan literasi nggak bisa diharapkan hasilnya akan kelihatan langsung besok pagi mungkin bertahap. Apabila guru konsisten membiasakan anak-anak dekat dengan buku, maka akan bertahap juga kebiasaan mereka dan mempunyai daya tarik minat dalam membaca tanpa paksaan. Inilah akar atau pondasi yang tertanam sejak SD maka selanjutnya akan dan bakal jadi pribadi yang peduli, berpikir kritis dan punya wawasan yang luas. Literasi bukan hanya sekedar tugas guru bahasa doang melainkan tugas bersama yang peduli sama masa depan generasi anak Indonesia hebat.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …