Home » Esai dan Opini » MEMPERTAHANKAN KEBERADAAN BAHASA JAWA DI TENGAH KERAGAMAN BAHASA DAERAH SUMATERA UTARA

MEMPERTAHANKAN KEBERADAAN BAHASA JAWA DI TENGAH KERAGAMAN BAHASA DAERAH SUMATERA UTARA

admin 01 Apr 2025 238

Penulis : Nadiah Azlila

Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang kaya akan keragaman budaya dan bahasa, bahasa Jawa berupaya mempertahankan eksistensinya di antara bahasa daerah lain yang lebih mendominasi. Sumatera Utara tidak semata-mata dikenal dengan masyarakat Batak yang kuat mempertahankan adat dan bahasanya, namun juga menjadi rumah bagi berbagai suku lain, termasuk suku Jawa yang telah menetap di sana selama berabad-abad.

Ketika berjalan di pasar tradisional atau duduk di warung kopi, kadang terdengar percakapan dalam beragam bahasa, mulai dari Batak Toba, Karo, Mandailing, Melayu, hingga bahasa Indonesia yang menjadi alat komunikasi utama antaretnis. Akan tetapi, semakin jarang terdengar obrolan dalam bahasa Jawa, terutama dari generasi muda keturunan Jawa yang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah lain yang mereka serap dari lingkungan sekitar.

Sejarah mencatat bahwa kehadiran suku Jawa di Sumatera Utara tak lepas dari kebijakan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Ribuhan orang Jawa dibawa ke Sumatera Timur untuk bekerja di perkebunan tembakau, karet, dan kelapa sawit. Mereka datang sambil membawa budaya, adat istiadat, serta bahasa mereka yang khas.

Di masa lampau, desa-desa yang dihuni oleh masyarakat Jawa masih kental dengan nuansa tradisional. Anak-anak bermain sambil berbincang dalam bahasa Jawa, para orang tua bergosip di sore hari dengan menggunakan dialek khas mereka, dan upacara adat seperti kenduri atau slametan masih berlangsung dalam bahasa jawa. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana itu mulai berubah.

Saat ini, banyak keluarga Jawa yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Anak-anak mereka bersekolah dengan kurikulum nasional yang tidak mengajarkan bahasa Jawa, sementara pergaulan dengan teman-teman dari suku lain membuat mereka lebih nyaman menggunakan bahasa yang lebih umum digunakan.

Di tengah dominasi bahasa Batak dan Melayu, bahasa Jawa tampaknya menjadi minoritas yang terpinggirkan. Anak muda keturunan Jawa mungkin masih memahami bahasa tersebut, namun mereka ragu untuk menggunakannya. Mereka khawatir terdengar “kuno” atau berbeda dari teman-temannya.

Di sisi lain, media dan teknologi juga turut berkontribusi dalam menurunkan intensitas penggunaan bahasa Jawa. Acara televisi dan media sosial lebih banyak menyajikan isi dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing, sedangkan program berbahasa Jawa sangat minim. Akibatnya, generasi muda semakin jarang mendengar bahasa Jawa di luar lingkungan keluarga mereka.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, masih ada harapan untuk melestarikan bahasa Jawa di Sumatera Utara. Upaya ini harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak-anak. Jika para orangtua kembali membiasakan anak-anak mereka berbicara dalam bahasa Jawa di rumah, maka bahasa ini akan tetap hidup dari generasi ke generasi.

Di tingkat komunitas, berbagai kegiatan budaya dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan dan memperkuat penggunaan bahasa Jawa. Pertunjukan wayang kulit, ketoprak, atau kuda lumping bisa menjadi media yang menarik bagi generasi muda untuk mengenal bahasa leluhur mereka. Komunitas budaya Jawa juga dapat mengadakan kursus atau pelatihan bahasa Jawa agar anak-anak dan remaja memiliki tempat untuk belajar dan mempraktikkan bahasa mereka dengan lebih percaya diri.

Sekolah juga mempunyai peran penting dalam pelestarian bahasa Jawa. Jika memungkinkan, sekolah-sekolah yang memiliki banyak siswa keturunan Jawa dapat memasukkan muatan lokal berupa pembelajaran bahasa dan budaya Jawa. Kegiatan ekstrakurikuler seperti drama berbahasa Jawa atau lomba pidato dalam bahasa Jawa dapat menjadi cara yang efektif untuk menarik minat siswa.

Memelihara bahasa Jawa di Sumatera Utara bukan cuma upaya untuk menjaga komunikasi antar generasi, namun juga untuk melestarikan identitas budaya yang telah diturunkan oleh leluhur terdahulu. Bahasa bukan sekadar alat berhubung saja, tetapi juga cerminan cara berfikir, nilai-nilai, dan kearifan lokal yang membentuk watak suatu masyarakat.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, tiap bahasa daerah memiliki tantangan untuk tetap ada. Akan tetapi, jika ada kesadaran dan usaha dari pihak keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah maka bahasa Jawa masih memiliki peluang besar untuk terus hidup dan berkembang di tanah Sumatera Utara.

Dengan langkah-langkah nyata ini, kita tidak hanya menjaga bahasa Jawa tetap ada, tetapi juga memastikan bahwa generasi masa depan masih dapat menikmati indahnya bahasa dan budaya yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Jawa di Sumatera Utara.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …