Beranda » Esai dan Opini » Memulihkan “Jiwa” Dalam Pembelajaran Bahasa & Sastra Di Sekolah Dasar

Memulihkan “Jiwa” Dalam Pembelajaran Bahasa & Sastra Di Sekolah Dasar

By: Aulia Alvira

Memasuki era globalisasi salah satu isu yang sedang diperbincangkan adalah masalah lingkungan. Kelestarian lingkungan selalu menjadi bahasan yang penting dalam berbagai forum internasional dan menjadi perhatian berbagai pihak. Isu lingkungan digolongkan menjadi beberapa isu utama seperti yang diungkapkan oleh Sovacool (Paradewari, 2018: 243), there are four main enviromantal issues: climate change, air pollution, water availibilty and quality, and land-use change.

 Secara umum manusia mengalami isu lingkungan yang sama yaitu perubahan iklim, polusi udara, ketersediaan dan kualitas air bersih, serta alih fungsi lahan. Berhubungan dengan isu lingkungan, sekolah perlu memberikan pengetahuan lingkungan kepada peserta didik demi membangun manusia yang sehat dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Lingkungan sekolah yang sehat juga dapat meningkatkan kemampuan hidup sehat, sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan optimal.

 Miranto (2019) menyatakan bahwa peserta didik juga harus dibiasakan untuk

menghindari kerusakan seperti tidak memotong tumbuhan sembarangan, menginjak rumput di taman, atau mencabut tanaman sembarangan, atau tidak membuang sampah sembarangan adalah langkah yang dapat diambil untuk melindungi alam. Sikap tanggap terhadap lingkungan, tidak hanya memiliki pengetahuan terhadap lingkungan tetapi juga memiliki sikap tanggap dan mampu memberikan solusi atas isu-isu lingkungan (Kusumaningrum, 2018). Pengetahuan tentang isi lingkungan sebagai isi (content) bahasa yang direkam dapat dijadikan bahan pembelajaran itu membelajarkan dan terutama mendidik generasi muda untuk mengenali, menghormati, mencintai, merawat, termasuk memanfaatkan sumber daya lingkungan secara terkendali, agar tumbuh kesadaran untuk melestarikannya (Mbete, 2020). Rendahnya sikap peduli lingkungan di kalangan peserta didik sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pendidikan lingkungan yang efektif di sekolah (Ningsih, 2021).

Kebiasaan ini timbul karena masih rendahnya sikap peduli lingkungan dari peserta didik (Arofah, 2021). Setiap individu memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga lingkungan. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran lingkungan telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Masih ada harapan untuk memperbaikinya dengan meningkatkan kepedulian lingkungan di kalangan generasi muda.

Pendidikan lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain, salah satunya adalah pembelajaran bahasa. Penggunaan tema lingkungan dalam pembelajaran teks dapat memicu minat peserta didik untuk belajar bahasa dan secara implisit dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang lingkungan. Ini juga dapat membuka jendela peluang untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan komunikatif peserta didik dengan menggunakan materi yang menantang pada isu-isu global, terutama tentang lingkungan (Ramadhan et al., 2019).

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) sering kali terjebak dalam pradigma mekanistis. Siswa lebih banyak dilatih untuk menjadi “mesin pengeksekusi tata bahasa” dari pada menjadi individu yang mahir berkomunikasi dan kaya akan imajinasi. Padahal, pada fase fondasi ini, bahasa dan sastra seharusnya menjadi pintu utama pembentukan karakter dan kecerdasan emosional.

Pergeseran dari Struktural ke Fungsional

Masalah klasik yang mendera Pendidikan bahasa di SD adalah dominasi aspek structural yang kaku. Siswa sering kali hafal definisi subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK), namun gagap ketika diminta menyampaikan gagasan secara lisan atau menuliskan perasaan dalam bentuk narasi yang runtut.

Pembeljaran harus bergeser kearah fungsional-komunikatif. Bahasa bukan sekedar kumpulan aturan yang harus dihafal untuk ujian, melainkan alat untuk mengeskpresikan diri, bernegoisasi, dan memahami informasi. Di kelas SD, ini berarti memperbanyak ruang diskuksi, presentasi sederhana, dan penulisan jurnal harian yang membebaskan ekspresi anak.

Sastra sebagai Laboratorium Empati

Sastra sering kali dianaktirikan dan hanya dianggap sebagai “pelengkap” kurikulum. Jika muncul dalam buku teks, sastra biasanya disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda yang kering, seperti menanyakan “ Siapa nama tokoh utama?” atau “ Di mana latar cerita tersebut?”

Sejatinya, sastra adalah laboratorium empati. Melalui dongeng, puisi, dan cerpen,anak belajar menempatkan diri di posisi orang lain. Di tengah maraknya perundungan (bullying) dan krisis karakter, sastra hadir sebagai media halus untuk menanamkan nilai moral tanpa harus menggurui. Membaca sastra bukan tentang menghafal biografi penulis, melainkan tentang merasakan pengalaman hidup melalui kata-kata.

Revitalisasi Budaya Literasi melalui Read Aloud

Di era gempuran konten visual singkat ( seperti TikTok atau Reels ), kemampuan konsentrasi anak menurun. Di sinilah peran penting Teknik Read Aloud ( Membaca Nyaring ) dan mendongeng oleh guru.

Ketika guru membaca cerita dengan intonasi yang tepat dan ekspresi yang hidup, ia sedang membangun jembatan anatara teks yang mati dengan imajinasi anak yang hidup. Hal ini terbukti mampu meningkatkan kosa kata, memperbaiki kemampuan menyimak, dan yang paling penting : menumbukan rasa cinta terhadap buku.

Read aloud sebagai strategi utama terbukti efektif dlam menciptakan kegiatan membaca yang menyenangkan, interaktif dan partisipatif. Siswa yang mengikuti kegiatan read aloud menjadi lebih antusiasi, mampu memhami isi bacaan dengan baik, dan berpartisipasi aktif dalam diskusi, sehingga literasi tidak hanya menjadi keterampilan akademik, tetapi juga membentuk budaya membaca.

Kreativitas Media: Dari “ Smart Box “ hingga Animasi Pembelajaran bahasa di SD kini tidak boleh lagi hanya mengandalkan papan tulis. Penggunaan media inovatif sangat diperlukan : Media Fisik ( Smart Box ) : Menggunakan alat peraga konkret untuk menyusun kalimat atau mencocokkan watak tokoh.

Media Digital ( Powtoon/Animasi ) : Memvisualisasikan teks sastra atau prosedur bahasa ke dalam bentuk yang lebih dinamis untuk  menarik minat generasi alpha.

Pembelajaran Bahasa Indonesia Dan Sastra SD harus kembali ke marwahnya sebagai Pendidikan yang memanusiakan manusia. Kita tidak sedang mencetak ahli bahasa sejak dini, melainkan sedang membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki empati yang dalam, dan mampu menyampaikan pikirannya dengan santun. Jika kita berhasil membuat anak “ jatuh cinta “ pada bahasanya sendiri melalui sastra yang indah, maka kemampuan tata bahasa akan mengikuti dengan sendirinya sebagai sebuah kebutuhan, bukan beban.

“ Bahasa menunjukkan bangsa, dan sastra menunjukkan rasa “

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less