Merawat Sastra Daerah di Era Global
- account_circle admin
- calendar_month 19/04/2026
- visibility 172
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Muhammad Andri Harahap
Di tengah ambisi menjadikan bahasa indonesia sebagai bahasa internasional, terdapat satu fondasi yang tidak boleh terlupakan: bahasa daerah. Sebagai negara dengan ratusan bahasa lokal, Indonesia memiliki kekayaan sastra lisan dan tulisan yang luar biasa. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak bahasa daerah mulai ditinggalkan oleh penutur mudanya. Oleh karena itu, pengembangan bahasa dan sastra melalui jalur pendidikan formal bukan lagi sekedar pilihan, melainkan sebuah urgensi untuk menjaga akar budaya bangsa.
Pendidikan merupakan saluran dalam upaya revalisasi ini. Memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum muatan lokal bukan hanya soal belajar tata bahasa, melainkan upaya mentransfer nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Sastra daerah, baik berupa pantun, dongeng, maupun syair, adalah gudang kearifan lokal yang mengajarkan etika dan cara pandang hidup yang khas. Ketika siswa mempelajari sastra daerah, mereka sebenarnya sedang diajak untuk mengenali jati diri mereka sendiri sebelum mengenal dunia yang lebih luas.
Tantangan terbesar dalam pengembangan ini adalah kesan “kuno” atau “sulit” yang sering melekat pada bahasa daerah di mata generasi z dan gen alpha. Disinilah peran pendidik untuk berinovasi. Pengajaran bahasa daerah tidak boleh lagi dilakukan secara monoton. Integrasi teknologi, seperti pembuatan konten video kreatif berbahasa daerah atau digitalisasi naskah kuno menjadi komik digital, dapat memantik minat siswa. Pengembangan bahasa daerah harus diletakkan dalam kerangka yang modern agar anak muda merasa bangga, bukan malu, saat menggunakannya.
Selain itu, sinergi antara bahasa daerah dan bahasa indonesia harus bersifat saling melengkapi. Bahasa daerah bertindak sebagai penyokong kosakata bahasa indonesia menjadi pemersatu keragaman tersebut. Dengan memperkuat pendidikan bahasa daerah, kita sebenarnya sedang memperkokoh fondasi kebudayaan nasional. Penutur yang menguasai bahasa daerah dengan baik cenderung memiliki kepekaan rasa dan literasi budaya yang lebih tinggi.
Jadi pengembangan bahasa dan sastra melalui pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah kunci keberlanjutan identitas kita. Jangan sampai kemajuan zaman membuat kita fasih berbahasa asing, namun gagap saat berbicara dengan bahasa daerah sendiri. Melestarikan bahasa daerah melalui sekolah adalah cara kita memastikan bahwa “roh” Indonesia tetap hidup, meski raga kita tengah berlari mengejar modernitas.

Saat ini belum ada komentar