Beranda » Esai dan Opini » ORANG TUA, GURU PERTAMA BAGI ANAK

ORANG TUA, GURU PERTAMA BAGI ANAK

By: Nazla Syafitri Nasution, Sebelum anak mengenal sekolah, buku pelajaran, dan guru Bahasa Indonesia, ia sudah lebih dulu belajar bahasa di rumah. Orang tua menjadi guru pertama yang memperkenalkan kata, kalimat, dan makna melalui percakapan sehari-hari. Setiap ucapan yang terdengar di rumah adalah bagian dari pelajaran bahasa yang sesungguhnya. Dari cara orang tua berbicara, anak belajar bagaimana mengucapkan kata dengan jelas, memahami arti sebuah kalimat, serta meniru nada bicara yang sesuai dengan situasi.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, siswa diajarkan bagaimana berbahasa yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Namun, kemampuan itu tidak muncul begitu saja. Dasarnya terbentuk sejak dini, saat anak berinteraksi dengan orang tuanya. Misalnya, ketika ibu berkata, “Tolong ambilkan air, ya,” anak bukan hanya belajar menuruti perintah, tetapi juga mengenal bentuk kalimat sopan. Dari ucapan seperti “terima kasih”, “maaf”, dan “permisi”, anak mulai memahami nilai kesantunan dalam berbahasa, yang merupakan salah satu tujuan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Peran orang tua dalam hal ini sangat besar. Bahasa yang digunakan di rumah akan membentuk pola pikir dan sikap berbahasa anak. Anak yang terbiasa mendengar bahasa Indonesia yang baik, jelas, dan sopan, akan lebih mudah mengikuti pelajaran bahasa di sekolah. Sebaliknya, jika anak terbiasa mendengar bahasa campuran yang tidak teratur atau kata-kata kasar, ia bisa mengalami kesulitan dalam memahami kaidah bahasa Indonesia yang benar. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam percakapan sehari-hari, agar anak terbiasa dengan  kalimat yang tepat.

Selain berbicara, kebiasaan membaca juga menjadi sarana penting dalam pembelajaran bahasa. Orang tua dapat menumbuhkan minat baca anak dengan cara sederhana, seperti membacakan cerita sebelum tidur atau menyediakan buku-buku bergambar. Dari cerita-cerita itu, anak tidak hanya menikmati alur kisah, tetapi juga belajar mengenal kosakata baru, struktur kalimat, dan gaya bahasa. Hal ini sejalan dengan tujuan pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu menumbuhkan kemampuan memahami dan mengapresiasi karya sastra.

Kegiatan menulis juga dapat diawali dari rumah. Orang tua bisa mengajak anak menulis daftar belanja, membuat kartu ucapan ulang tahun, atau menulis cerita pendek sederhana. Melalui kegiatan kecil seperti ini, anak belajar mengungkapkan pikiran dalam bentuk tulisan. Dengan begitu, ia terbiasa merangkai kalimat, memilih kata yang tepat, dan berpikir teratur—semua itu merupakan bagian dari keterampilan menulis dalam Bahasa Indonesia.

Namun, di era digital sekarang, tantangan dalam pembelajaran bahasa semakin kompleks. Banyak anak lebih sering membaca pesan singkat di media sosial daripada buku pelajaran. Bahasa yang digunakan di dunia maya sering kali tidak sesuai dengan ejaan dan tata bahasa yang benar. Di sinilah peran orang tua kembali diuji. Mereka harus mampu membimbing anak agar tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan santun, baik saat berbicara maupun saat menulis secara daring. Misalnya, dengan memberi contoh cara menulis pesan dengan ejaan yang benar, atau mengingatkan anak untuk tidak menggunakan kata-kata kasar di internet.

Pada dasarnya, orang tua dan guru memiliki peran yang saling melengkapi. Guru mengajarkan teori dan kaidah Bahasa Indonesia di sekolah, sedangkan orang tua menerapkan pembiasaan berbahasa yang baik di rumah. Ketika keduanya berjalan seiring, anak akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang cerdas, santun, dan berkarakter.Dapat disimpulkan bahwa orang tua adalah guru pertama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dari mereka, anak belajar berbicara, membaca, dan menulis dengan penuh makna. Bahasa Indonesia bukan hanya pelajaran di sekolah, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui contoh dan teladan dari orang tua, anak tidak hanya mampu berbahasa dengan benar, tetapi juga menggunakan bahasa sebagai wujud penghargaan terhadap sesama dan cinta terhadap tanah air.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less