Home » Esai dan Opini » PERBEDAAN GAYA KOMUNIKASI ANTARA GENERASI MILENIAL DAN GENERASI Z

PERBEDAAN GAYA KOMUNIKASI ANTARA GENERASI MILENIAL DAN GENERASI Z

admin 04 Apr 2025 833

By: Ainun, Amanda Syahfa Desvila Harahap

Setiap generasi memiliki cara komunikasi yang berbeda, tergantung pada lingkungan, teknologi, dan budaya yang berkembang saat mereka tumbuh. Dua generasi yang sering dibandingkan dalam hal komunikasi adalah generasi Milenial dan generasi Z. Meskipun keduanya sama-sama hidup di era digital, mereka memiliki kebiasaan komunikasi yang berbeda. Generasi Milenial tumbuh di masa peralihan dari era analog ke digital, sedangkan generasi Z lahir saat teknologi sudah berkembang pesat. Perbedaan ini membuat cara mereka berkomunikasi, menyampaikan pesan, serta menggunakan media sosial menjadi tidak sama. Gaya komunikasi yang disukai Gen Z yakni gaya komunikasi yang santai, berpikiran terbuka, bersahabat, dan toleran terhadap perbedaan.

Generasi Z dikenal dalam cara menyampaikan pesan secara singkat dan jelas. Komunikasi secara virtual juga sangat digemari oleh Gen Z. Aplikasi pesan grup menjadi sarana untuk berinteraksi sosial dengan mengirim pesan secara virtual.  Gen Z memanfaatkan Group Chatting untuk berbagi informasi, dan berkomunikasi meskipun memiliki teman dengan lokasi jarak jauh. Generasi Z lebih suka mencari kesenangan nya sendiri lewat media sosial seperti Tiktok, Instagram, Line, Twitter atau yang sekarang sudah berganti nama menjadi X, karena lewat media sosial itu lah generasi Z banyak juga menemukan teman-teman baru dari mana saja. Generasi Z apabila dalam berkomunikasi lewat media sosial mereka lebih cenderung banyak menggunakan emoji yang lebih unik, stiker, ataupun gambar meme yang lagi viral, dan generasi Z apabila berkomunikasi lebih suka memakai bahasa slang atau bahasa gaul Contohnya seperti “bestie” artinya “sahabat”, “iykyk (If You Know, You Know)”, “CMIIW (If You Know, You Know)” dan masih banyak lagi.

Sedangkan, generasi milenial berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh internet, media sosial, dan smartphone. Dibandingkan generasi sebelumnya, mereka lebih fleksibel, cepat, dan menyukai komunikasi yang interaktif. Dalam berkomunikasi generasi milenial lebih suka melalui email, WhatsApp, Linkedin dan Facebook untuk mempermudah mereka berkomunikasi terutama di lingkungan kerja, generasi milenial cenderung menggunakan bahasa yang santai tetapi tetap formal dalam situasi kerja. Mereka juga sering menggunakan singkatan dan emoji, dan generasi milenial lebih suka membaca artikel ataupun menonton video dengan durasi yang panjang untul mendapatkan informasi. Generasi milenial cenderung masih suka bertemu langsung untuk mengobrol santai atau diskusi. Generasi milenial juga sering menggunakan singakatan seperti contohnya “BTW (bye the way)” , atau “FYI (for your information), mereka juga menggunakan emoji tetapi tidak yang terlalu berlebihan. Penelitian oleh Akbar et al. (2024) menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung menggunakan kata slang dan bahasa informal lebih banyak dibandingkan Generasi Milenial dalam komunikasi online.

Faktor – faktor yang mempengaruhi dalam komunikasi ialah

  1. Teknologi dan Digitalisasi.

Generasi milenial dan generasi Z akan tumbuh menjadi era digital dan akan sangat disesuaikan dengan teknologi baru. Mereka dengan cepat belajar menggunakan platform modern dan alat komunikasi yang memengaruhi interaksi. Generasi Milenial cenderung menggunakan platform seperti Facebook dan WhatsApp, sementara Generasi Z lebih aktif di TikTok dan Instagram. Perbedaan pilihan dalam media sosial ini mempengaruhi cara mereka berinteraksi dan menyampaikan pesan.

  1. Gaya bahasa dan Etika dan Etika komunikasi.

Generasi Milenial dan Generasi Z menunjukkan perbedaan dalam gaya bahasa dan etika komunikasi, terutama dalam konteks media sosial.Dalam hal etika komunikasi, Generasi Milenial lebih menekankan kejujuran, akurasi, dan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, Generasi Z lebih memprioritaskan keaslian dan koneksi emosional, meskipun kadang mengorbankan akurasi. Kedua generasi menyadari pentingnya menghormati hak dan martabat individu dalam komunikasi online.

3.Pola pikir dan nilai-nilai dalam komunikasi.

Pola pikir dan nilai-nilai dalam komunikasi generasi milenial dan generasi Z memiliki perbedaan mendasar dalam hal kejelasan, kecepatan, inovasi, formalitas, kolaborasi, media sosial, dan kepedulian terhadap isu sosial. Untuk menjalin komunikasi yang efektif antara kedua generasi ini, diperlukan pemahaman terhadap gaya komunikasi masing-masing agar bisa saling beradaptasi dan bekerja sama dengan baik. generasi milenial cenderung lebih mendalam, menyukai komunikasi yang lebih panjang, serta sering menggunakan narasi personal dalam menyampaikan pesan. Sebaliknya, Generasi Z lebih menyukai komunikasi yang cepat, langsung, dan ringkas  karena terbiasa dengan informasi yang cepat berubah dan berlimpah.

4.Kepedulian terhadap Isu Sosial dalam Komunikasi.

Dalam konteks digitalisasi budaya politik di Indonesia, Generasi Milenial dan Generasi Z memainkan peran penting. Kedua generasi ini memanfaatkan media sosial untuk berpartisipasi dalam diskusi politik dan menyebarkan informasi. Generasi Milenial dan Generasi Z menunjukkan kepedulian yang penting terhadap isu-isu sosial dalam komunikasi mereka, terutama melalui media sosial. Generasi Z, yang tumbuh di era digital, lebih kritis terhadap norma-norma sosial dan aktif dalam memperjuangkan perubahan menuju keadilan dan kesetaraan. Mereka tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap isu-isu yang ada di indonesia. Namun, terdapat perbedaan dalam cara mereka berinteraksi dan menyampaikan pendapat, yang mencerminkan karakteristik unik masing-masing generasi dalam menanggapi isu-isu sosial dan politik.

Dampak komunikasi dalam kehidupan sehari-hari dan dunia profesional adalah Generasi milenial dan generasi Z memiliki karakteristik komunikasi yang berbeda, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia profesional. Perbedaan ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital dan pengalaman sosial yang berbeda selama masa pertumbuhan mereka. Generasi Milenial tumbuh bersama perkembangan teknologi seperti internet dan media sosial. Mereka cenderung menggunakan platform seperti Facebook dan WhatsApp untuk berkomunikasi, dengan gaya bahasa yang lebih formal dan terstruktur. Generasi Z berkomunikasi dengan cara yang sangat dipengaruhi oleh teknologi dan budaya digital. Mereka lebih sering menggunakan media sosial dan dibandingkan bertatap muka atau menelepon. Komunikasi sehari-hari generasi milenial mengalami perubahan yang besar seiring dengan perkembangan teknologi digital dan media sosial. Perubahan ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pola konsumsi berita, dan kesehatan mental .dalam hal pola konsumsi berita, media digital telah menjadi sumber utama informasi bagi generasi milenial. Penelitian oleh Anugrafianto (2023) menunjukkan bahwa platform media sosial dan portal berita online menjadi pilihan utama karena kemudahan akses, kecepatan penyebaran informasi, dan keterlibatan konten. Indasari et al. (2024) mengungkapkan bahwa topik sensitif seperti pekerjaan, pernikahan, dan gaji, serta perbandingan dengan orang lain, dapat memperparah kecemasan sosial, yang berdampak negatif pada harga diri dan kemampuan bersosialisasi. Komunikasi sehari-hari generasi milenial dipengaruhi oleh kemajuan teknologi digital, yang membawa dampak positif dan negatif. Komunikasi memiliki dampak yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z, yang dikenal sebagai generasi digital. Salah satu dampak utama adalah pergeseran dari komunikasi tatap muka ke komunikasi digital. Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter menjadi sarana utama bagi Generasi Z untuk berinteraksi. Mereka cenderung menggunakan simbol visual seperti emoji dan GIF dalam percakapan online, yang mencerminkan adaptasi terhadap fasilitas interaktif dari platform tersebut.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …