Home » Esai dan Opini » Tantangan Menghidupkan Kembali Minat Sastra dan Kualitas Berbahasa Anak Sekolah Dasar di Tengah Arus Digital

Tantangan Menghidupkan Kembali Minat Sastra dan Kualitas Berbahasa Anak Sekolah Dasar di Tengah Arus Digital

admin 26 Apr 2026 90

By: Seila Rizky Rizaik

Kalau kita perhatikan pada suasana yang ada di SD saat ini, terdapat perubahan yang besar dengan anak dalam berkomunikasi. Pada Sebagian proses pengembangan Bahasa, sebaiknya anak sudah mahir dalam menyimak, berbicara hingga menulis dengan berurutan. Sedangkan pendapat saya Adalah pengembangan Bahasa saat ini sedang mengalami kebocoran yang sangat parah, yang dimana anak jauh lebih dekat dengan istilah atau kata kata khusus yang sedang viral dam singkat yang diambil dari media sosial disbanding kalimat yang ada dalam buku cerita. Kemudian fakta ini menjadi tantangan yang serius bagi kita dikarenakan Bahasa bukanlah sekedar soal menghafal pada kosakata, sebaliknya tentang bagaimana anak bisa menyampaikan isi pikiranya dan perasaannya dengan jelas dan halus.

Terdapat salah satu fakta yang sering dikeluhkan dalam ruang kelas yaitu rendahnya daya menyimak siswa. Menurut pendapat saya pribadi, anak anak pada zaman sekarang mempunyai selera informasi yang serba cepat sehingga daya tahan pendengaran anak itu menurun drastis. Anak anak kadang terbiasa menonton video pendek yang berdurasi dalam hitungan detik, dan cepat bosan Ketika harus mendengarkan guru dalm menjelaskan hal yang sedikit Panjang atau Ketika menyimak pembacaan cerita sastra yang mendalam. Ini berakibat, Ketika diminta menceritakannya Kembali, anak bingung dan hanya menjawab seadanya. Dari fakta ini terdapat bahwa kemampuan mereka untuk menangkap pesan moral atau inti dari sebuah karya sastra menjadi tumpul, dan inilah letak kunci dalam pengembangan Bahasa yang sebenarnya.

Kemudian masalah ini merembet pada kekayaan kosa kata yang dimiliki mereka. Banyak anak sekaang yang perbendaharaannya sangat terjangkau atau bisa dibilang cukup miskin dengan kata. Saya berpendapat bahwa kegagalan dalam memberikan asupan terhadap sastra cukup membuat anak tersebut kesulitan pada saat menulis karangan atau deskirpsi. Kalimat yang anak hasilkan sering kali menjadi hambar dan terus menerus diulang. Mereka jarang dalam menggunakan pilihan kata yang indah, dikarenakan Bahasa internet yang serba singkat sudah masuk kedalam gaya bicara mereka sehari hari. Tanpa pembiasaan untuk mencintai sastra, anak akan merasa kesulitan dalam berbicara secara formal atau menulis dengan berurutan di masa yang akan datang.

Dalam menghadapi situasi ini, Solusi yang paling tepat Adalah adanya penerapan metode Digital Storytelling dan Teknik Read Aloud atau disebut dengan membaca nyaring secara rutin di kelas. Guru bukan lagi tidak bisa hanya melarang anak menyentuh teknologi, akan tetapi teknologilah yang harus diisi dengan konten sastra yang berkualitas. Misalnya, guru dapat mengajak siswa membuat podcast sederhana atau pun video pendek yang berisi cerita rakyat. Dengan car aini, anak dapat memperkaya kosa kata nya. Selain itu, kegiatan membaca nyaring selama lima belas menit sebelum pembelajaran dimulai, dan bisa melatih kembali untuk mengetahui fokus pendengaran anak yang sempat menghilang akibat menonton video instan.

Selain ini, sekolah juga perlu menghidupkan kembali panggung sastra mini di dalam kelas untuk menjadi Solusi dalam mengasah keberanian berbicara anak. Anak tidak boleh hanya disuruh menulis dalam buku, tetapi juga harus diberi ruang untuk memerankan tokoh nya dalam cerita atau membacakan puisi hasil karya mereka sendiri. Pendapat saya tentang ini, dengan melalui drama atau bermain peran, anak secara otomatis akan bisa belajar tentang tata krama dan Bahasa yang santun. Karena anak harus memerankan kaakter yang berbeda bereda. Inilah yang menjadi Solusi praktis agar anak tersebut tidak berbicara kasar lagi seperti yang selalu mereka tiru dengan konten konten yang tidak bermoral di internet.

Sebagai penutup, pengembangan bahasa di SD tidak bisa lagi diandalkan dengan  cara lama yang kaku dan membosankan. Jika kita bisa menghidupkan kembali roh sastra di sekolah dengan cara-cara yang kreatif, anak tidak hanya akan mahir bahasa Indonesia secara nilai akademis, tetapi juga memiliki karakter yang lebih halus dan pemikiran yang lebih tajam. Karena pada akhirnya, lewat bahasa dan sastralah kita mengajari anak-anak cara menjadi manusia yang bisa menghargai sesamanya melalui tutur kata yang bermartabat.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …