Tantangan Menghidupkan Kembali Minat Sastra dan Kualitas Berbahasa Anak Sekolah Dasar di Tengah Arus Digital
- account_circle admin
- calendar_month 26/04/2026
- visibility 152
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Seila Rizky Rizaik
Kalau kita perhatikan pada suasana yang ada di SD saat ini, terdapat perubahan yang besar dengan anak dalam berkomunikasi. Pada Sebagian proses pengembangan Bahasa, sebaiknya anak sudah mahir dalam menyimak, berbicara hingga menulis dengan berurutan. Sedangkan pendapat saya Adalah pengembangan Bahasa saat ini sedang mengalami kebocoran yang sangat parah, yang dimana anak jauh lebih dekat dengan istilah atau kata kata khusus yang sedang viral dam singkat yang diambil dari media sosial disbanding kalimat yang ada dalam buku cerita. Kemudian fakta ini menjadi tantangan yang serius bagi kita dikarenakan Bahasa bukanlah sekedar soal menghafal pada kosakata, sebaliknya tentang bagaimana anak bisa menyampaikan isi pikiranya dan perasaannya dengan jelas dan halus.
Terdapat salah satu fakta yang sering dikeluhkan dalam ruang kelas yaitu rendahnya daya menyimak siswa. Menurut pendapat saya pribadi, anak anak pada zaman sekarang mempunyai selera informasi yang serba cepat sehingga daya tahan pendengaran anak itu menurun drastis. Anak anak kadang terbiasa menonton video pendek yang berdurasi dalam hitungan detik, dan cepat bosan Ketika harus mendengarkan guru dalm menjelaskan hal yang sedikit Panjang atau Ketika menyimak pembacaan cerita sastra yang mendalam. Ini berakibat, Ketika diminta menceritakannya Kembali, anak bingung dan hanya menjawab seadanya. Dari fakta ini terdapat bahwa kemampuan mereka untuk menangkap pesan moral atau inti dari sebuah karya sastra menjadi tumpul, dan inilah letak kunci dalam pengembangan Bahasa yang sebenarnya.
Kemudian masalah ini merembet pada kekayaan kosa kata yang dimiliki mereka. Banyak anak sekaang yang perbendaharaannya sangat terjangkau atau bisa dibilang cukup miskin dengan kata. Saya berpendapat bahwa kegagalan dalam memberikan asupan terhadap sastra cukup membuat anak tersebut kesulitan pada saat menulis karangan atau deskirpsi. Kalimat yang anak hasilkan sering kali menjadi hambar dan terus menerus diulang. Mereka jarang dalam menggunakan pilihan kata yang indah, dikarenakan Bahasa internet yang serba singkat sudah masuk kedalam gaya bicara mereka sehari hari. Tanpa pembiasaan untuk mencintai sastra, anak akan merasa kesulitan dalam berbicara secara formal atau menulis dengan berurutan di masa yang akan datang.
Dalam menghadapi situasi ini, Solusi yang paling tepat Adalah adanya penerapan metode Digital Storytelling dan Teknik Read Aloud atau disebut dengan membaca nyaring secara rutin di kelas. Guru bukan lagi tidak bisa hanya melarang anak menyentuh teknologi, akan tetapi teknologilah yang harus diisi dengan konten sastra yang berkualitas. Misalnya, guru dapat mengajak siswa membuat podcast sederhana atau pun video pendek yang berisi cerita rakyat. Dengan car aini, anak dapat memperkaya kosa kata nya. Selain itu, kegiatan membaca nyaring selama lima belas menit sebelum pembelajaran dimulai, dan bisa melatih kembali untuk mengetahui fokus pendengaran anak yang sempat menghilang akibat menonton video instan.
Selain ini, sekolah juga perlu menghidupkan kembali panggung sastra mini di dalam kelas untuk menjadi Solusi dalam mengasah keberanian berbicara anak. Anak tidak boleh hanya disuruh menulis dalam buku, tetapi juga harus diberi ruang untuk memerankan tokoh nya dalam cerita atau membacakan puisi hasil karya mereka sendiri. Pendapat saya tentang ini, dengan melalui drama atau bermain peran, anak secara otomatis akan bisa belajar tentang tata krama dan Bahasa yang santun. Karena anak harus memerankan kaakter yang berbeda bereda. Inilah yang menjadi Solusi praktis agar anak tersebut tidak berbicara kasar lagi seperti yang selalu mereka tiru dengan konten konten yang tidak bermoral di internet.
Sebagai penutup, pengembangan bahasa di SD tidak bisa lagi diandalkan dengan cara lama yang kaku dan membosankan. Jika kita bisa menghidupkan kembali roh sastra di sekolah dengan cara-cara yang kreatif, anak tidak hanya akan mahir bahasa Indonesia secara nilai akademis, tetapi juga memiliki karakter yang lebih halus dan pemikiran yang lebih tajam. Karena pada akhirnya, lewat bahasa dan sastralah kita mengajari anak-anak cara menjadi manusia yang bisa menghargai sesamanya melalui tutur kata yang bermartabat.

Saat ini belum ada komentar